Laboratorium Literasi

Sudah semingu ini saya mendampingi kelas literasi dengan mengubahnya menjadi cara yang menyenangkan bagi anak-anak untuk empat kelas di Madrasah Diniyah Al-Ubadah. Saya sulit untuk mengajak guru-guru menerapkan display kelas dan membudayakan kelas literasi, tak semudah membalikan telapak tangan. Ada beberapa  faktor; Pertama, guru sulit menerima perubahan. Kedua, guru malas untuk melakukan sedikit hal yang menyenangkan bagi anak-anak ketika mengajar. Ketiga, bisa jadi guru malu bertanya dan sulit memahami makna dari kelas literasi dan display kelas. Maka dari itu, saya mengambil jalan mempengaruhi guru-guru dengan bersenjatakan anak-anak.
Saya mengajak anak-anak untuk membiasakan membaca sebelum masuk kelas atau sembari menunggu peragantian kelas yang memakai sistem shift untuk kelas satu yang terbagi menjadi kelas satu (a) dan satu (b) namun hanya terdapat satu ruangan, dan untuk kelas dua dan tiga yang tidak bersekat antara kelas yang satu dan lainnya. Betapa terkejutnya saya ketika menemukan cukup banyak anak-anak yang belum lancar membaca bahkan ada yang masih mengeja untuk seumuran kelas tiga sekolah dasar. Anak-anak cukup antusias mendapati buku-buku baru yang banyak terdapat gambar-gambar menarik, awalnya cukup susah mengajak anak-anak membaca. Banyak alasan yang dilontarkan anak-anak, malaslah, tidak maulah.
Saya tak kehabisan semangat dan ide, maka saya yang mengawali membaca di luar kelas, dibawah sebatang pohon yang rindang dan terdapt saung bambu kecil –sengaja untuk menarik perhatian mereka. “anak-anak, siapa yang mau ikut ibu membaca? Ayo mendekat kesini” seruku. Sekitar tiga orang anak menghampiriku, “saya, bu.. saya,bu..”ketiganya menghampiriku seraya menunjuk tangan. “baiklah, sekarang pilih dan ambil buku manapun yang kalian sukai di rak”. Tak lama mereka kembali lagi dengan membawa buku bergambar dengan cerita masing-masing berbeda,

 

“siapa yang mau memulai duluan?”. “saya, bu..” ismail menunjuk tangan.“baca yang keras dan baik ya, nak!”pintakusayapun mulai memnyimak bacaan ismail, bacaannya masih terbata dan belum memahami tanda baca antara titik dan koma ataupun bagaimna cara membaca dialog dalam tanda petik.“begini, nak.. coba perhatikan tanda titik dan komanya, membaca cerita itu sama halnya dengan ketika mengaji, loh.. ada tajwidnya juga”“ketika ada tanda kutip dua” aku menunjukan tanda kutip dua pada buku “maka kita membacanya seperti sedang berbicara dengan orang” sambungku.“ah, bu.. malu, seperti sedang drama saja” jawab ismail sambil tertawa.“ayo, dilanjutkan bacanya” aku pun melanjutkan menyimak ismail membaca, dan memperbaiki cara membacanya langsung ketika salah dan menyuruhnya mengulangi lagi. Karena terlalu fokus dengan ismail, tanpa saya sadari atmosfer disekeliling saya berubah menjadi kerumunan anak-anak kelas satu yang tertarik perhatiannya sewaktu saya sibuk mengajari ismail.
“bu, saya bisa, bu membaca seperti yang ibu contohkan tadi” seru salah satu siswa.“oke, baiklah.. siapa lagi yang ingin ikut membaca bersama ibu?”tanyaku mempengaruhi.“saya, bu.. saya,bu…”hampir semua anak menunjuk tangan.“kalau begitu ambil buku kalian dikelas”dan mulailah mereka bergiliran membaca dan meminta saya untuk menyimak, dan yang belum mendapat giliran dilanjutkan besok.           Kegiatan diatas merupakan awal saya mengajak anak-anak membaca, sekitar dua bulan yang lalu setelah pojok baca pada setiap kelas terpasang. Dan cukup efektif untuk mempengaruhi anak kelas satu, dan tak saya sangka adalah satu anak yang masih mengeja membaca mengampiri saya untuk dituntun membaca, belakangan baru saya ketahui dia merupakan murid kelas tiga disekolah dasar.           Kembali kepada kegiatan seminggu ini, saya berinisiatif merubah pola membudayakan literasi pada anak. Tidak hanya terus-terusan membaca saja, tapi saya membungkusnya dengan membuat display pojok baca. Saya mengajak anak-anak tingkat dua, tiga dan empat untuk membuat display kelas dengan keseluruhan adalah ide rancangan dan kata-kata mereka sendiri. Saya hanya sebagai fasilitator dan pendamping mereka saja, saya ajarkan untuk membuat perencanaan dan rancangan display yang akan dibuat. Dan hasilnya, menakjubkan! Mungkin juga karena anak tingkat empat merupakan siswa kelas lima sekolah dasar. Pojok baca disulap sangat cantik dan terciptalah nama “kelas Kreatif” yang mereka tempel di pintu  kelas.

Melihat terjadi suatu keindahan dikelas tingkat empat, terjadi  kecemburuan dikelas yang lain, dan kelas tingkat dua meminta saya untuk menemani mereka membuat hal yang sama keesokan harinya, kebetulan wali kelas mereka sudah beberapa hari tidak masuk. Sama halnya seperti kelas tingkat empat, saya hanya menjadi fasilitator dan pendamping mereka, semua ide dan rancangan seutuhnya saya serahkan pada mereka. Sungguh diluar dugaan saya, mereka benar-benar belajar literasi yang mnyenangkan. Dalam display itu mereka tidak hanya menuliskan kata yang sopan namun terdapat beberapa puisi dan kata-kata positif. Lalu terciptalah sebuah kelas bernama “kelas Imajinatif”. Yang menarik adalah, pada dispaly terpajang amplop surat yang isinya akan diganti seminggu sekali oleh masing-masing anak.



Melihat dua kelas yang lain sudah menampakkan kecantikannya, kelas tingkat  dua pun tak mau kalah ‘iri’ nya meminta saya membuat hal yang sama. Sayapun mengajak wali kelas mereka untuk membersamai siswanya membuat display pojok baca. Namun karena ada suatu urusan yang menyebabkan  wali kelas tingkat dua berhalangan masuk, maka kelas tingkat dua diserahkan kepada saya. Untuk siswa kelas tingkat dua, cukup sulit untuk saya berperan sebagai fasilitator dan pendamping saja, hal ini dikarenakan siswa masih menginjak kelas tiga dan empat sekolah dasar. Perlu cukup tenaga dan kesabaran untuk menstimulus imajinasi mereka. Pada akhirnya, mereka sangat luar biasa, terciptalah kelas dengan nama “kelas Sang Pemimpi”. Saya bertanya mengapa diberi nama demikian, mereka menjawab karena ada banyak mimpi yang mereka bayangkan.
Saya menuliskan pohon impian dan menggambar buah apel masing masing sepuluh buah apel pada tiap pohon. Saya mencontohkan pada satu apel dengan sebuah nama salah satu anak dikelas itu dan menuliskan cita-citanya.“Ika, impian kamu nanti ketika beranjak dewasa apa?”tanya saya sambil menuliskan namanya pada sebuah gambar apel.“impian saya menjadi seorang koki bu” jawab ika.sayapun menuliskan impian ika pada bauh apel pohon harapan. Dan dilanjutkan satu anak yang lain untuk menulis sendiri nama dan impian mereka. Ada satu apel hijau besar yang mereka buat dan meminta untuk saya menuliskan nama-nama mereka berdua puluh. Pada apel hijau itu saya menuliskan nama-nama mereka dan menanyakan pada mereka simbol apa yang ingin digambarkan pada setiap nama.“ika, kamu ingin ibu ganbarkan simbol apa pada namamu?”tanya saya pada ika.“awan saja, bu” jawab ika.“kalau nabila?” sambungku.“simbol cinta aja, bu—lope” jawabnya lugu.“rafi mau daun aja, bu”. “srikanti mau strowberry, bu”. “lira mau apel merah, bu”. “azmi mau jeruk, bu”. “kalau atika mau disimbolkan dengan bintang aja, bu”. Jawab beberapa anak disekelilingku. Karena bel tanda pulang telah berbunyi, maka hanya tinggal beberapa anak saja yang tetap tinggal dan penasaran ingin menulis impiannya pada apel di pohon impian dan memberikan simbol pada namanya.

Terkhusus untuk kelas tingkat satu saya yang membuatkan langsung display literasi pada pintu kelas mereka, saya membuat kalimat dengan menngunakan kertas orgami beda warna yang saya gunting berbentuk segi empat kecil dan menuliskan huruf pada setiap kertas. Setelah berbentuk sedemikian rupa, saya menggantungkannya pada tali dan saya kaitkan pada permukaan depan pintu. Keunikan kalimat ini, saya bentuk bolak-balik dengan kalimat yang berbeda, yang bertujuan untuk melatih membaca dan berfikir anak. Untuk kalimat umumnya adalah “Kelas Literasi 1a dan 1b”, dan pada sisi belakangnya saya tulis dengan kalimat “Lagi Belajar”. Ketika yang sedang belajar adalah kelas satu (a) maka kertas origami harus dibalik pada huruf satu (b) dan yang akan terlihat adalah simbol kepala anak laki-laki dan anak permpuan yang berkerudung, menandakan jika yang sedang di dalam kelas adalah kelas 1a.

Melihat sesuatu yang menari di depan pintunya, maka terlontarlah pertanyaaan kritis siswa kelas satu sambil membolak balikan huruf didepan pintu dan mencoba mengeja hurufnya.“bu, kelas literasi itu apa?”tanya mereka“kelas yang di dalamnya terdapat anak-anak yang rajin membaca dan menulis” jawabku dengan penjelasan se-sederhana mungkin agar dapat dipahami oleh mereka.
Lalu, saya menjelaskan kepada mereka dan kepada wali kelasa mereka tentang display literasi di pintu itu. Dan sepertinya saya mencium aroma guru kelas satu punya niat ingin membuat display juga.
Tujuan saya mengemas kelas literasi dengan cara menyenangkan agar timbul sendiri minat baca dan menulis pada anak. Secara tidak langsung setiap anak akan membaca informasi yang tertulis pada setiap kelas yang di lewatinya. ***

Advertisements

Mengapa aku suka hujan? :)

tau ga sih kenapa aku sukaaaaa bnget dengan
HUJAN dan gerimis??
karena hujan itu adalah coretan langit tanpa
tinta,,keromantisan yg di titipkan allah melalui gerimis..
Hujan itu memiliki kemampuan untuk menghipnotis manusia dan me-resonansi-kan ingatan masa lalu.. wiiihhh,,,selalu deh bisa bengong lama di sudut jendela..
di dalam hujan, ada lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang rindu…
hmmm…bikin ngilu..
terus Setelah hujan turun, tanah, ilalang, rerumputan akan mengeluarkan bau wangi yg khas, senyawa yg indah menurutku….
ketika hujan deras kebumi, jika aku aware,selalu terdengar suara lelaki melantunkan quran, syahdu bnget… aku selalu membatin “siapa sih sbenrnya yg suka ngaji ketika hujan”
after all, jika semua dikombinasikan,
sempurna sudah lagu rinduku bersama
HUJAN…
Subhanallah… pengen nangis tauk sbnernya..
hiks,, nangis bahagia tapi rasa nano nano..
#just share, kalo kamu gimna? ^^,

 

#17 September 2013

Aku + Kamu = K I T A

semua rasa melebur di sekala waktu seperti ini,,
ritme yang syahdu antara serat O2 yang saling bergesek, menghantarkan ayat ayat allaah yang berirama pada langit yang menjemput fajar..
sedamai hati ini ,, seharmoni berbagai rasa yang membentuk pendaran warna pelangi..

ingin kusapa dia yang kusebut ksatria langit, “assalamu’alaikum Cinta, sedang apa kau di skala waktu seperti ini? apakah sma sepertiku? apakah aku masih terlihat seperti kaca yang buram oleh debu sehingga kita tak saling tampak jua?”
aku bertanya pada hati dan iman, ternyata benarlah kacaku masih buram oleh debu..
tapi, hey !! lihatlah sayapku sekarang sudah berangsur pulih..
pulih oleh sekolah kehidupan, pulih oleh iman, pulih oleh cinta dan tentunya akan semakin pulih jika kau dan aku segera menjadi kita..

Allaah itu sungguh indah perencanaan skenarioNya, sayang..
dan sungguh, aku semakin malu kepada-Nya..
maukah kau membantuku???

_ Poetri Negeri Tropis _ |4:10| 22 September 2013